Ketemu Blog ini dari google ya?
Jika anda menemukan blog ini dari google, tolong bantu saya mengklik tombol google plus diatas. Google+ itu bukan social network biasa. Setiap klik bisa memperbaiki ranking halaman yang anda vote berdasarkan kata kunci yang mengantarkan anda ke blog tersebut. Terimakasih banyak.

Tampilkan postingan dengan label Fisika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fisika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2015

Sifat-sifat Tekanan Hidrostatik

Aldi Eka Wahyu Widianto | 19.53 | | Be the first to comment!
Sebelum membahas tekanan hidrostatik, alangkah baiknya kita mengulas mengenai tekanan. Tekanan adalah besarnya gaya dibagi luas permukaan gaya tersebut bekerja dan dirumuskan dengan:
dengan P = tekanan (N/m2)
             F = gaya (Newton)
             A = luas permukaan (m2)


TEKANAN HIDROSTATIK
Tekanan di dalam zat cair yang disebabkan oleh berat zat cair disebut Tekanan Hidrostatik. Alat ukur tekanan hidrostatik disebut Hartl. Tekanan hidrostatik dirumuskan sebagai berikut:
dengan P = tekanan (N/m2)
             ρ =  massa jenis (kg/m3)
             g = percepatan gravitasi (m/s2)
             h = kedalaman (meter)


SIFAT-SIFAT TEKANAN HIDROSTATIK
1. Tekanan hidrostatis bergantung pada gravitasi 

 
Para penyelam merasakan tekanan air pada tubuh mereka. makin dalam seorang menyelam, makin besar tekanan yang diterima. Tekanan air merupakan hasil gaya gravitasi yang menarik air yang ada di atas penyelam ke bawah.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa benda yang berada dalam air seolah–olah teretimpa oleh miliaran molekul air yang berada di atasnya. Tiap molekul air ditarik oleh gaya gravitasi bumi menuju bawah yang disebabkan adanya percepatan gravitasi. Percepatan gravitasi (g) inilah yang menyebabkan tekanan pada setiap benda jika berada di dalam air maupun tekanan pada sisi – sisi wadah. Dengan kata lain, tekanan pada zat cair bergantung pada percepatan gravitasi di mana zat cair itu berada (percepatan gravitasi di Bumi sekitar 9,8 N/m2).

2.  Tekanan hidrostatik bergantung pada kedalaman


Untuk membuktikan tekanan zat cair bergantung pada kedalaman, perhatikan pancaran air dari lubang – lubang pada wadah seperti gambar di atas. Makin banyak air yang kita isikan pada wadah, makin tinggi permukaan airnya. Akibatnya, pancaran air makin jauh pada posisi lubang yang makin ke bawah. Hal ini membuktikan bahwa makin dalam makin banyak molekul air yang menimpa molekul air di sekitar lubang. Akibatnya, tekanan pada lubang makin ke bawah makin besar.

3. Tekanan hidrostatik tidak bergantung pada bentuk wadah


Telah kita ketahui bersama bahwa tekanan zat cair bergantung pada kedalaman. Apakah bentuk wadah juga berpengaruh pada tekanan zat cair? Untuk mengetahuinya, tuangkan air ke dalam bejana yang berhubungan yang terdiri dari berbagai bentuk. Kemudian, amati ketinggian permukaan air dalam bejana berhubungan tersebut. Melalui eksperimen seperti gambar di atas, tampak bahwa zat cair di atas titik a, b, c, dan d sama tinggi. Ketika diukur, tekanan di a, b, c, dan d sama besar.

4. Tekanan hidrostatik bergantung pada massa jenis zat cair


Apabila zat cair yang berbeda jenis diisikan pada bejana berhubungan, apakah tekanannya sama besar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kalian harus mengetahui terlebih dahulu disebabkan oleh apakah terjadinya tekanan itu. Tekanan diakibatkan oleh gravitasi atau berat zat cair itu sendiri. Berat benda merupakan hasil kali massa benda dengan gravitasi di mana benda berada. Besar massa suatu zat ditentukan oleh massa jenisnya.

Sekian postingan kali ini tentang tekanan hidrostatik. Jangan lupa bagikan ke teman-teman anda. Terimakasih.

Senin, 23 Desember 2013

Perbedaan Berat dan Massa

Aldi Eka Wahyu Widianto | 11.37 | | Be the first to comment!

Assalamualaikum wr.wb. Setelah sekian lama tidak posting, kali ini saya akan posting tentang perbedaan berat dan massa (fisika). Baiklah, silahkan disimak.

Banyak orang yang salah mengenai berat dan massa. Penggunaan istilah massa sering tertukar dengan istilah berat. Misalnya orang mengatakan berat sekantong gula 1 kg, berat sekarung beras 25 kg, padahal yang dimaksud adalah massa sekantong gula 1 kg, dan massa sekarung padi 25 kg.

Berat diukur dengan neraca pegas, misalnya berat sekantong telur 1 x 9,8 N sedangkan berat sekarung beras 25 x 9,8 N. Lho mengapa kok dikalikan dengan 9,8? Karena gravitasi di bumi sekitar 9,8 m/s2. Berdasarkan rumus  w = mg” / “berat = massa dikali percepatan gravitasi”, dapat dikatakan bahwa berat benda adalah berbeda-beda tergantung percepatan gravitasinya. Misal, berat benda di bumi berbeda dengan berat benda di bulan karena percepatan gravitasi di bumi (sekitar 9,8 m/s2) berbeda dengan percepatan gravitasi di bulan (sekitar 1,5 m/s2). Dari sini dapat diambil hubungan antara berat dan gravitasi, yaitu berbanding lurus. Pengaruhya adalah semakin besar gravitasi, semakin pula nilai beratnya (massa sama).

Berat berbeda dengan massa. Berat dapat berubah-ubah sedangkan massa tidak. Massa adalah ukuran banyaknya materi yang dikandung oleh suatu benda. Oleh karena itu, sekali lagi massa benda selalu sama di mana pun benda tersebut diletakkan karena banyaknya materi yang terkandung di dalam benda tidak akan berubah meskipun benda dibawa ke tempat yang berbeda gravitasinya. Jadi jika massa 25 kg beras dibawa ke Bulan, massa beras akan tetap, yaitu 25 kg.

Berat adalah gaya gravitasi yang bekerja pada suatu benda. Berat  merupakan hasil kali massa dan percepatan gravitasi (w = mg).

Kesimpulannya, massa benda selalu sama di berbagai tempat di alam semesta, tetapi berat benda di alam semesta berbeda-beda bergantung pada percepatan gravitasi di mana benda berada.
Sebagai tambahan.
  • Alat ukur berat adalah neraca pegas (dinamometer). 
  •  Berat dilambangkan dengan w, dari kata weight.
  • Satuan berat dalam SI adalah Newton (N). 
  • Benda-benda di bumi selalu jatuh ke Bumi karena adanya gaya gravitasi. Oleh karena itu, berat selalu memiliki arah tegak lurus terhadap permukaan bumi menuju pusat bumi.
  • Alat ukur massa adalah neraca.
  • Massa merupakan besaran skalar yang tidak memiliki arah. 
  • Satuan massa dalam SI adalah kilogram (kg).
Nah, dengan demikian berakhirlah postingan saya hari ini tentang perbedaan berat dan massa. Semoga bermanfaat.

Senin, 08 Juli 2013

Alat-alat Optik : MATA

Aldi Eka Wahyu Widianto | 19.46 | 2 Comments so far


Setelah lama tidak update, kali ini saya akan update sesuatu yang berhubungan dengan fisika, yakni alat-alat optik. Seperti yang kita ketahui, alat-alat optik itu beragam. Ada yang alami seperti mata. Dan ada pula yang buatan seperti lup, teleskop, periskop, mikroskop, Overhead Projector, dan lain-lain. Tetapi kali ini, saya hanya akan upload mengenai mata. 

Kenapa upload? Karena anda terlebih dahulu harus mengunduh. Karena jika telah terunduh, anda tidak perlu  koneksi lagi jika anda membacanya diwaktu yang lain.

Langsung saja. Untuk mengunduhnya, klik disini.

Sekian postingan kali ini. Semoga bermanfaat.

Kamis, 25 April 2013

Teori-teori Cahaya (1)

Aldi Eka Wahyu Widianto | 21.14 | Be the first to comment!
Teori-teori cahaya telah berkembang sejak zaman dahulu. Telah banyak orang yang mengadakan peneltian tentang cahaya. Bahkan tidak hanya 1,2, atau 3 orang saja. Tetapi, orang dari berbagai negara berlomba-lomba pun meneliti tentang cahaya yang masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Langsung saja kita simak beberapa teori-teori tentang cahaya yang disampaikan oleh ilmuwan-ilmuwan di dunia.

  1. Teori Impuls Cahaya.
    Teori Impuls Cahaya diajukan oleh seorang filosof, ahli sains dan matematikawan asal Perancis yang bernama Rene Descartes (1596-1650).  Descartes mengajukan teori cahaya dalam tulisannya tentang optik pada tahun 1637 dan menyatakan bahwa "cahaya merupakan suatu impuls (gangguan) yang merambat dengan cepat dari suatu tempat ke tempat yang lain." Beserta semua penjelasannya, maka teori impuls cahaya dari Rene Descartes ini mampu menjelaskan hukum Snellius (akan dibahas di lain waktu).
  2. Teori Korpuskuler
    Teori korpuskuler diajukan oleh ahli fisika dan matematikawan Inggris Sir Isaac Newton (1642-1727). Dalam teorinya, Isaac Newton menyatakan bahwa sumber-sumber cahaya memancarkan elemen-elemen sangat halus yang mengenai mata kita sehingga memberikan kesan cahaya. Bagian-bagian yang sangat halus tersebut, menurut Newton, adalah partikel-partikel cahaya yang dipancarkan ke segala arah. Teori Korpuskuler Newton juga menyatakan bahwa laju cahaya semakin cepat ketika memasuki medium yang lebih rapat. Hal ini karena mendapatkan tarikan gravitasi yang lebih besar. Teori Korpuskuler ini dapat menjelaskan tentang pemantulan cahayam tetapi kemudian teori ini bertentangan dengan teori cahaya yang diajukan oleh Huygens.
  3. Teori Gelombang
    Teori Gelombang diajukan oleh seorang ahli astronomi, matematikawan, dan ahli fisika Belanda Christian Huygens (1629-1605). Menurut Huygens didalam sumber cahaya terdapat sesuatu yang bergetar dan getaran tersebut merambat ke mata kita sebagai gelombang. Karena cahaya dapat merambat dalam ruang hampa, maka, menurut Huygens, medium untuk gelombang cahaya bukan udara. 
  4. Teori Gelombang Elektromagnetik
    Teori gelombang elektromagnetik diajukan oleh seorang ahli fisika Inggris, James Clerk Maxwell (1831-1879). Berdasarkan gagasan Faraday tentang hubungan listrik dan magnet, maka Maxwell menyatakan bahwa cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang tidak memerlukan medium untuk merambat. Maxwell berhasil menunjukkan bahwa cahaya tampak merupakan bagian dari spektrum gelombang elektromagnetik dan dia juga berhasil memprediksi kelajuan cahaya dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

    Dengan
    c = Laju cahaya (gelombang elektromagnetik)
    Mu0 (simbol kiri) = Permeabilitas vakum
    Epsilon0 (simbol kanan) = Permitivitas vakum
  5. Teori Kuantum
    Pelopor teori Kuantum aladah Max Planck dan Albert Einstein. Teori ini menyatakan bahwa cahaya dapat berperilaku sebagai sebuah gelombang maupun partikel, hal ini berdasarkan gagasan Max Planck bahwa cahaya terdiri dari peket-paket energi yang disebut foton. Berdasarkan teori kuantum, maka pada tahun 1905 Albert Einstein (1875-1955) berhasil menjelaskan peristiwa efek foto listrik.
Artikel diatas hanya sekilas gambaran mengenai teori-teori mengenai cahaya yang sebenarnya masih banyak penggagas-penggagas lain yang insyaallah akan dibahas dalam postingan berikutnya. Terimakasih.

Kamis, 07 Februari 2013

Fisika Getaran

Aldi Eka Wahyu Widianto | 06.49 | Be the first to comment!

 Getaran adalah gerak bolak-balik suatu benda secara periodik melalui titik setimbangnya. 

Amplitudo.
Satu getaran merupakan gerak benda kembali ke suatu titik yang dipakai sebagai titik awal gerakan. Dalam hal ini, titik A dipakai sebagai titik awal gerakan.
Jarak mistar yang digetarkan dari titik setimbangnya disebut dengan simpangan. Sedangkan jarak antara B-A dan B-C adalah jarak simpangan terbesar yang dikenal dengan amplitudo. Jadi, amplitudo getaran adalah simpangan terbesar dari titik setimbang.




Frekuensi.
Gerakan setiap getaran tentu mempunyai kecepatan yang berbeda, misalnya ada gerakan yang melakukan getaran 50 kali dalam waktu 1 detik (sekon). Angka yang menyatakan banyaknya getaran setiap detik disebut frekuensi. Jadi, frekuensi getaran adalah banyaknya getaran yang dilakukan oleh benda dalam setiap detik (sekon). Frekuensi suatu getaran mempunyai satuan "getaran/sekon". Satuan ini diberi nama lain Hertz yang disingkat Hz. Besar frekuensi getar dapat ditentukan dengan rumus:
f = n/t, dengan n=banyaknya getaran, dan t= waktu melakukan getaran (s). Ingat, satuan frekuensi adalah Hertz (Hz). Berikut ini adalah konversi satuan Hertz.
1 KHz = 103 Hz
1 MHz = 10
3 KHz = 106 Hz
1 GHz = 10
3 MHz = 106 KHz = 109 Hz 

Periode.
Periode adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan satu kali getaran. Jadi, jika frekuensi suatu getaran 50 Hz, setiap getarannya membutuhkan 1/50 sekon. 1/50 Sekon inilah periodenya.
Dengan demikian, jika periode kita beri lambang T dan frekuensi kita beri lambang f, maka dapat dituliskan:










Referensi = Buku Bilingual Fisika + Ebook IPA Kelas 8 SMP.

Minggu, 13 Januari 2013

Teori Atom Niels Bohr

Aldi Eka Wahyu Widianto | 18.37 | 4 Comments so far

    
Teori atom modern mengacu pada tiga partikel dasar atom, yaitu elektron, proton, dan neutron. Sekarang kita mempelajari teori atom Niels Bohr karena teori inilah yang paling mudah untuk dipahami dan paling populer.
     Teori Atom Niels Bohr berbunyi sebagai berikut.
a  Atom terdiri dari sebuah inti atom yang dikelilingi oleh satu atau beberapa elektron.

b  Inti atom terdiri dari nukleon, yaitu proton yang bermuatan listrik yang positif dan neutron yang bermuatan netral (tidak bermuatan listrik). Massa atom paling besar terdapat pada inti atom. Elektron yang mengelilingi inti atom mempunyai massa yang relatif jauh lebih kecil daripada massa inti atom.

c  Saat mengelilingi inti atom, elektron-elektron menempati suatu orbit atau lintasan tertentu yang dikenal dengan nama kulit atom. Atom bermassa besar akan memiliki jumlah elektron yang relatif lebih banyak pula.

d  Tiap-tiap kulit atom mempunyai batasan jumlah maksimum elektron yang dapat menempatinya.

e  Kulit atom suatu unsur diberi nama kulit K, L, M, N dan seterusnya sesuai dengan jumlah elektron.

f.  Pada atom yang netral, jumlah muatan positif  sama dengan jumlah elektron yang mengelilinginya.

g.  Jika sebuah atom kehilangan satu atau beberapa elektron, atom akan kelebihan muatan positif dan atom ini akan menjadi ion positif. Ion adalah atom yang bermuatan listrik.

h.  Jika sebuah atom menangkap satu atau beberapa elektron, atom akan kelebihan muatan negatif dan atom ini akan menjadi ion negatif.

     Teori atom secara lengkap belum seluruhnya tertuang dalam 8 poin teori diatas. Akan tetapi, 8 poin diatas sudah cukup untuk memberi gambaran kepada kita tentang pengertian atom.

Sabtu, 12 Januari 2013

Pengertian Atom, Ion, dan Molekul Dalam Fisika

Aldi Eka Wahyu Widianto | 21.09 | Be the first to comment!


     Sejak tahun 400 tahun sebelum Masehi, orang sudah mengenal istilah atom. Leucippus dan Democritos, dua orang filsuf Yunani yang hidup pada saat itu, mengemukakan bahwa jika suatu zat atau materi terus-menerus dipecah menjadi bagian yang makin kecil, maka akan diperoleh partikel terkecil yang tidak dapat dipecah lagi. Partikel terkecil tersebut dinamakan atom (bahasa Yunani: a = tidak; tomos = terpecahkan). Selain pendapat tersebut, muncul juga pendapat yang bertentangan. Aristoteles, menyatakan bahwa semua benda dapat dibagi terus-menerus hingga tak terbatas.

      Pada tahun 1808, ilmuwan John Dalton (1766-1844) mengemukakan teori atom. Teori atom ini memberi dukungan secara ilmiah kepada pendapat Democritos. Sebaliknya, teori ini mematahkan pendapat Aristoteles.

Secara garis besar, Teori Atom Dalton adalah sebagai berikut:
1. Setiap zat terdiri dari paritek-partikel kecil yang disebut atom.
2. Atom tidak dapat dipecahkan lagi menjadi partikel yang lebih kecil.
3. Atom-atom suatu zat bersifat sama (identik), artinya mempunyai bentuk, ukuran, dan massa yang sama.
4. Atom suatu zat berbeda sifat dengan atom lain.
5. Pada reaksi kimia hanya terjadi penataan ulang atau pengubahan pengelompokan atom-atom, sedangkan jenis dan jumlah atom tidak berubah.

        Teori Atom Dalton memberikan inspirasi besar bagi para ilmuwan modern. Itulah sebabnya, John Dalton mendapat sebutan kehormatan, yaitu Bapak Teori Atom Modern.


           Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ditemukan fakta bahwa atom ternyata mempunyai partike-partikel yang ukurannya lebih kecil lagi, yaitu, proton, elektron, dan neutron.

Ion, adalah atom yang bermuatan listrik. Ion positif disebut juga anion, sedangkan ion negatif disebut kation.
Ada beberapa ketentuan penting yang perlu diingat:

- Atom akan netral jika jumlah elektron dan proton sama. Jika jumlah elektron 1, maka jumlah proton 1.
- Biar mudah mengingat:
Elektron / (-) / negatif
Proton / (+) / positif

- Proton tidak dapat berpindah ke benda lain, yang bisa pindah hanya elektron. (Mengapa penting? ada soal yang mirip di UAN).

-Bagaimana jika jumlah elektron dan proton beda?
Maka benda tersebut dapat dikatakan bermuatan.

-Benda bermuatan (+) apabila proton lebih banyak daripada elektron, disebabkan karena atom tersebut kehilangan 1 atau beberapa elektron.
-Benda bermuatan (-) apabila elektron lebih banyak datipada proton, disebababkan karena atom tersebut menangkap 1 atau lebih elektron dari luar.
(Baca Juga : Konfigurasi Elektron dan Teori Atom Niels Bohr.
Molekul, adalah kumpulan beberapa atom yang mempunyai ikatan kimia (have chemical bond). Ikatan kimia itu ada yang terdiri dari atom sejenis yang disebut molekul unsur, dan ada juga yang terdiri dari beberapa jenis atom, yang disebut molekul senyawa.
-Molekul Unsur
Seperti yang disebutkan tadi, molekul unsur adalah molekul yang terdiri dari atom sejenis saja. Contohnya hidrogen ( H₂); oksigen (O₂); ozon (O₃), dan lain-lain.  Jadi ada unsur-unsur yang terdiri dari 2 atom dan ada pula yang lebih. Unsur-unsur yang hanya terdiri dari 2 atom disebut molekul unsur diatomik, sedangkan yang melebihi 2 atom disebut unsur poliatomik.
-Molekul Senyawa
Pada molekul senyawa, setiap molekul terdiri dari beberapa jenis atom. Contoh air (H₂O). Terdiri dari sebuah atom oksigen dan 2 atom hidrogen.

Contoh molekul unsur :




  1. Gas hidrogen (H2)
  2. Gas oksigen (O2)
  3. Gas nitrogen (N2)
  4. Gas Klorin (Cl2)
  5. Iodin (I2)
  6. Fosfor (P4)
  7. Belerang (S8)
Contoh molekul senyawa :
  1. Natrium klorida (NaCl)
  2. Natrium hidroksida (NaOH)
  3. Asam sulfat (H2SO4)
  4. Karbondioksida (CO2)
  5. Amonia (NH3)

Referensi : Buku Paket Bilingual Fisika Kelas 8

Jumat, 16 November 2012

Hukum-hukum Newton

Aldi Eka Wahyu Widianto | 18.01 | Be the first to comment!
Hukum Newton I
Hukum Newton I juga dikenal dengan hukum kelembaman (Inersia)
Hukum Newton I menjelaskan bahwa: Benda akan selalu mempertahankan kedudukannya selama  tidak      ada resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut. Benda diam akan terus diam dan benda bergerak akan terus bergerak.

Hukum Newton II
Hukum Newton II berbunyi: Percepatan yang ditimbulkan oleh gaya yang bekerja pada benda berbanding lurus dengan besar gayanya dan berbanding terbalik dengan massa benda.

Rumus:
F = m.a
a = F/m
m = F/a
Keterangan:
F adalah jumlah gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda
m adalah massa benda (kg)
a adalah percepatan benda (acceleration)
Misal: Jika percepatan benda 24 m/s^2 (24 m/s kuadarat) dengan massa benda 0,5 kg, maka berapa gaya yang diterima?
F = m.a
F = 24.0,5
F = 12N

Hukum Newton III
Hukum Newton III menjelaskan bahwa: Jika suatu benda mengerjakan gaya pada benda kedua maka benda kedua tersebut mengerjakan juga gaya pada benda pertama, yang besar gayanya = gaya yang diterima tetapi berlawanan arah. Perlu diperhatikan bahwa kedua gaya tersebut harus bekerja pada dua benda yang berlainan.
F aksi = -F reaksi (F aksi samadengan negatif F reaksi)
Misal Jika suatu benda mendapatkan gaya aksi sebesar 6N, maka benda tersebut mendapatkan gaya reaksi sebesar -6N (negatif 6N)

Mohon Maaf Jika Posting Ini Tidak Lengkap
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Diberdayakan oleh Blogger.