Ketemu Blog ini dari google ya?
Jika anda menemukan blog ini dari google, tolong bantu saya mengklik tombol google plus diatas. Google+ itu bukan social network biasa. Setiap klik bisa memperbaiki ranking halaman yang anda vote berdasarkan kata kunci yang mengantarkan anda ke blog tersebut. Terimakasih banyak.

Kamis, 25 April 2013

Teori-teori Cahaya (1)

Aldi Eka Wahyu Widianto | 21.14 | Be the first to comment!
Teori-teori cahaya telah berkembang sejak zaman dahulu. Telah banyak orang yang mengadakan peneltian tentang cahaya. Bahkan tidak hanya 1,2, atau 3 orang saja. Tetapi, orang dari berbagai negara berlomba-lomba pun meneliti tentang cahaya yang masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Langsung saja kita simak beberapa teori-teori tentang cahaya yang disampaikan oleh ilmuwan-ilmuwan di dunia.

  1. Teori Impuls Cahaya.
    Teori Impuls Cahaya diajukan oleh seorang filosof, ahli sains dan matematikawan asal Perancis yang bernama Rene Descartes (1596-1650).  Descartes mengajukan teori cahaya dalam tulisannya tentang optik pada tahun 1637 dan menyatakan bahwa "cahaya merupakan suatu impuls (gangguan) yang merambat dengan cepat dari suatu tempat ke tempat yang lain." Beserta semua penjelasannya, maka teori impuls cahaya dari Rene Descartes ini mampu menjelaskan hukum Snellius (akan dibahas di lain waktu).
  2. Teori Korpuskuler
    Teori korpuskuler diajukan oleh ahli fisika dan matematikawan Inggris Sir Isaac Newton (1642-1727). Dalam teorinya, Isaac Newton menyatakan bahwa sumber-sumber cahaya memancarkan elemen-elemen sangat halus yang mengenai mata kita sehingga memberikan kesan cahaya. Bagian-bagian yang sangat halus tersebut, menurut Newton, adalah partikel-partikel cahaya yang dipancarkan ke segala arah. Teori Korpuskuler Newton juga menyatakan bahwa laju cahaya semakin cepat ketika memasuki medium yang lebih rapat. Hal ini karena mendapatkan tarikan gravitasi yang lebih besar. Teori Korpuskuler ini dapat menjelaskan tentang pemantulan cahayam tetapi kemudian teori ini bertentangan dengan teori cahaya yang diajukan oleh Huygens.
  3. Teori Gelombang
    Teori Gelombang diajukan oleh seorang ahli astronomi, matematikawan, dan ahli fisika Belanda Christian Huygens (1629-1605). Menurut Huygens didalam sumber cahaya terdapat sesuatu yang bergetar dan getaran tersebut merambat ke mata kita sebagai gelombang. Karena cahaya dapat merambat dalam ruang hampa, maka, menurut Huygens, medium untuk gelombang cahaya bukan udara. 
  4. Teori Gelombang Elektromagnetik
    Teori gelombang elektromagnetik diajukan oleh seorang ahli fisika Inggris, James Clerk Maxwell (1831-1879). Berdasarkan gagasan Faraday tentang hubungan listrik dan magnet, maka Maxwell menyatakan bahwa cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang tidak memerlukan medium untuk merambat. Maxwell berhasil menunjukkan bahwa cahaya tampak merupakan bagian dari spektrum gelombang elektromagnetik dan dia juga berhasil memprediksi kelajuan cahaya dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

    Dengan
    c = Laju cahaya (gelombang elektromagnetik)
    Mu0 (simbol kiri) = Permeabilitas vakum
    Epsilon0 (simbol kanan) = Permitivitas vakum
  5. Teori Kuantum
    Pelopor teori Kuantum aladah Max Planck dan Albert Einstein. Teori ini menyatakan bahwa cahaya dapat berperilaku sebagai sebuah gelombang maupun partikel, hal ini berdasarkan gagasan Max Planck bahwa cahaya terdiri dari peket-paket energi yang disebut foton. Berdasarkan teori kuantum, maka pada tahun 1905 Albert Einstein (1875-1955) berhasil menjelaskan peristiwa efek foto listrik.
Artikel diatas hanya sekilas gambaran mengenai teori-teori mengenai cahaya yang sebenarnya masih banyak penggagas-penggagas lain yang insyaallah akan dibahas dalam postingan berikutnya. Terimakasih.

Selasa, 09 April 2013

Rumus Volume Limas Dan Pembuktiannya

Aldi Eka Wahyu Widianto | 19.54 | 9 Comments so far





Artikel kali ini akan membahas seputar limas dan khususnya volumenya (beserta pembuktiannya).

Limas adalah salah satu bangun ruang yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari, seperti pada atap rumah kita, bangunan piramida, dan lain-lain. Bentuk limas juga beragam, ada liamas segitiga, limas segiempat, limas segilima, limas segienam, dsb.

Jumlah sisi limas juga beragam, bergantung pada bentuk limasnya, apakah segitiga, segiempat, segilima, atau segienam. Tetapi yang pasti cara untuk mencari jumlah sisi limas ini adalah

dimana n adalah jumlah sisi alas.

Nah, sekarang kita menginjak ke bahasan utama kita, yakni cara mencari volume limas beserta pembuktiannya.


Pada gambar diatas, terdapat 6 limas segiempat yang kongruen (ukuran sama dan sebangun), yakni limas T.ABCD, T.EFGH, T.ABFE, T.CDHG, T.ADHE, dan limas T.BCFG.

Volume limas

Tidak percaya? Ini dia pembuktiannya.

Jika panjang EA (rusuk kubus) adalah a, maka panjang A'B' adalah 1/2 a atau setengah panjang rusuk kubus. Sehingga volume kubus = a3 (a pangkat 3).

Menentukan volume limas:

Mungkin anda bertanya-tanya mengapa 1/2 a dapat berubah menjadi tinggi limas. Coba lihat gambar kubus ABCD.EFGH diatas, A'B' adalah tinggi limas = 1/2 AE yang merupakan rusuk kubus. Tinggi limas itu adalah 1/2 rusuk kubus.


Contoh soal:
  1. Sebuah limas mempunyai rusuk alas dengan bentuk persegi dengan rusuk alas 6 cm. Hitung volume limas jika tingginya 15 cm.
    Jawab.
    V=1/3 x luas alas x tinggi
    V= 1/3 x 6 x 6 x 15
    V= 180 cm^3 (centimeter kubik)
  2. Sebuah limas mempunyai volume 60 cm^3, limas itu berbentuk segitiga dengan ukuran alas dan tingginya 4cm dan 6cm. Berapakah tinggi limas itu?
    V =1/3 x luas alas x tinggi
    60=1/3 x 1/2 x 4 x 6 x t
    60=4t
    4t=60
    t  =60/4
    t  =15cm
Saya juga menyediakan latihan soal dalam bentuk pdf dan dapat anda download disini. Sekian dulu pembahasan mengenai volume limas. Oiya, jangan lewatkan juga postingan unik dan menarik lainnya seputar pendidikan. Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Diberdayakan oleh Blogger.