Ketemu Blog ini dari google ya?
Jika anda menemukan blog ini dari google, tolong bantu saya mengklik tombol google plus diatas. Google+ itu bukan social network biasa. Setiap klik bisa memperbaiki ranking halaman yang anda vote berdasarkan kata kunci yang mengantarkan anda ke blog tersebut. Terimakasih banyak.

Minggu, 17 Maret 2013

Demokrasi Pancasila

Aldi Eka Wahyu Widianto | 17.23 | | Be the first to comment!

Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi yang berdasarkan Pancasila. Makhsudnya, demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang bersumber dari tata nilai dan kepribadian bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

Dasar hukum pelaksanaan demokrasi Pancasila adalah:
  1. Sila ke-4 Pancasila.
  2. Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 "....disusunlah Kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat...."
  3. Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 "Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD"
  4. Pasal 2 ayat (1) UUD 1945 "MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilu dan diatur lebih lanjut dengan Undang-undang."
Dalam demokrasi Pancasila dikenal 2 cara pengambilan keputusan, yaitu musyawarah mufakat dan voting.
  • Musyawarah Mufakat, adalah pengambilan keputusan yang disetujui oleh seluruh peserta musyawarah.
  • Voting, dilakukan apabila musyawarah tidak menemui kata mufakat (deadlock). Akan tetapi dalam musyawarah harus terlebih dahulu diusahakan mencapai kata mufakat.

Voting dilakukan apabila:
  1. Adanya perbedaan pendapat yang sulit dipertemukan (deadlock).
  2. Keterbatasan waktu dalam proses musyawarah.
  3. Dalam peraturan musyawarah telah ditetapkan bahwa pengambilan keputusan dengan cara voting.
Ada 3 macam voting:
  1. Suara Terbanyak Relatif (Simple Majority)Artinya keputusan yang diambil yaitu keputusan yang mendapat suara terbanyak. Voting suara terbanyak relatif sesuai dengan UUD 1945 pasal 2 ayat (3) "Segala putusan MPR ditetapkan dengan suara terbanyak".
  2. Suara Terbanyak Mutlak (Absolut Majority)
    Artinya keputusan yang diambil yaitu keputusan yang mendapat suara separuh lebih dari seluruh jumlah pemilih. Sistem ini sesuai UUD 1945 pasal 6 ayat (3) "Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum.... dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden".
  3. Suara Terbanyak Bersyarat
    Keputusan yang diambil adalah keputusan yang mendapat suara yang disyaratkan dalam peraturan. Misalnya dalam UUD 1945 pasal 7B ayat (7) "Keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan Wakil Presiden harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir".
Sifat voting ada 2 macam:
  1. Terbuka, atrinya pilihannya tidak dirahasiakan. Biasanya saat memilih, hanya dengan mengacungkan tangan.
  2. Tertutup, artinya pilihannya dirahasiakan (dengan cara menuliskan pilihannya).
Inti pokoknya adalah:  Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang dijiwai, diwarnai, disemangati, dan didasari oleh Pancasila. Sehingga tidak cocok deterapkan oleh bangsa selain Bangsa Indonesia.

Rabu, 13 Maret 2013

Passive Voice:Kalimat Pasif

Aldi Eka Wahyu Widianto | 17.16 | | Be the first to comment!

Artikel kali ini akan membahas tentang passive voice, yang dibahasa Indonesiakan menjadi kalimat pasif. Didalam bahasa, ada 2 jenis kalimat, yakni kalimat aktif dan kalimat pasif. Tetapi yang akan dibahas kali ini adalah kalimat pasif.

Kalimat pasif adalah kalimat dimana subyeknya dikenai tindakan. Contoh : David invited by Robert every year to his birthday party. Disitu David sebagai objek dikenai tindakan, yaitu diundang (invited).

Ciri-ciri dan syarat suatu kalimat agar dapat disebut kalimat pasif:
  1. Memiliki subject dan object. Dalam contoh tadi, David sebagai subject, sedangkan Robert sebagai object. Jika kalimat itu diganti menjadi kalimat aktif, maka David akan menjadi object, dan Robert akan menjadi subject. Sehingga kalimatnya menjadi Robert invited David every year to his birthday party.
  2. Adanya kata kerja. Dalam hal ini, kata kerja (verb) yang dipakai adalah verb 3.
  3. Adanya to be: Are, is, was, were, am, has been, have been, had been, etc. Adanya model: Should be, could be, would be, may be, will be, must be, might be, etc.
Syarat tersebut harus dimiliki oleh setiap kalimat pasif. Jika salah satu saja dari 1,2, dan 3 tidak dimiliki maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif.

Tetapi bagaimana menentukan suatu kata kerja termasuk verb ke 2 atau ke 3? Memang verb 2 dan verb 3 memiliki banyak kemiripan penulisan maupun pengucapan. Namun jika kalimat tersebut memiliki syarat 1 dan 2 serta memiliki kata kerja, maka dapat dipastikan bahwa kalimat tersebut termasuk kalimat pasif.

Berikut ini ketentuan dasar mengubah kalimat aktif ke pasif:
  1. Dalam melakukan perubahan dari kalimat aktif ke dalam kalimat pasif, tenses tetap sama. Contoh, "we visited our uncle" menjadi "our uncle was visited by us". Pada contoh tersebut tensesnya adalah Past. Jadi kalimat pasifnya menggunakan to be past, yaitu "was".
  2. Jika pada kalimat aktif memakai verb+ing, maka pada kalimat pasifnya disisipkan kata "being". Contoh, "we are visiting our uncle now", maka kalimat pasifnya menjadi "our uncle is being visited by us now".

Sekian dulu pembahasan mengenai passive voice. Mengenai keterangan (tempat dan waktu), insyaallah akan dibahas pada postingan berikutnya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Diberdayakan oleh Blogger.